1.abstrak
Moral merupakan parameter utama selain kecerdasan kognitif untuk menunjukan seorang tersebut berkualitas atau tidak.menurunya moralitas bangsa menyebabkan bangsa tidak berkualitas,pendidikan karakter menawarkan solusinya.
2.pendahuluan
Individu disebut tidak bermoral saat ia tidak mampu memberikan penghargaan terhadap dirinya dan orang lain.indikator yang digunakan untuk melihat kejahatan yang kemudain dijadikan ukuran perkembangan kualitas.menurut Thomas lickona(1991)ada 10 tanda perilaku manusia menuju kehancuran.(http:tumoutou.net/702_05123/dwi_hastuti.htm)
3.pembahasan
Pendikan karakter berbeda dengan pendidikan moral.pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi,karena bukan hanya mengajarkan yang benar dan salah,lebih dari itu dia lebih menanamkan pada kebiasaan yang baik sehingga siswa didik faham. seperti kata aristoteles karakter lebih erat kaitannya dengan kebiasaan.menurut wynne(1991)kata karakter dari bahasa yunani yang berarti "to mark" (menandai) oleh sebab itu orang yang berbuat kejam maka akan dinilai berkarakter buruk dan sebaliknya pula,jadi karakter lebih erat kaitanya dengan kepribadian.menurut lickona(1992)komponen ini disebut"desiring the good"tetapi tidak hanya melibatkan aspeknya saja namun dengan moral feeling dan action(http:tumoutu.net/702_05123/dwi_hastuti.htm)
Menurut foester ada 4 ciri dasar dalam pendidikan karakter:1.keteraturan interior 2.koherensi yang member keberanian 3.otonomi 4.keteguhan dan kesetiaan.kematangan keempat karakter ini memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas.karakter ini yang menentukan pribadi dalam tindakannya.(http:www.asmakmalaikat.com/go/artikel/pendidikan/umum1.htm)
Sedang ratna megawangi sebagai pencetus pendidikan karakter Indonesia telah menyusun karakter yang layak untuk anak,yang kemudian disebut dengan 9 pilar: 1.cinta tuhan dan kebenaran 2.tanggung jawab 3.amanah 4.hormat dan santun 5.kasih saying 6.percaya diri 7.keadilan dan kepemimpinan 8.baik,rendah hati 9.toleransi dan cinta damai(http:tumoutou.net/702_05123/dwi_hastuti.htm)
Penerapan pendidikan sekolah bukan hanya wacana belaka,namun pengajaran nilai yang berhubungan dengan sekolah diajarkan sebagai subjek yang berdiri sendiri,maka dari itu bukan kecerdasan kognitif saja yang digunakan namun emosionalnya pun harus diperhatikan
4.penutupan
Pendidikan karakter bukan hanya menunjukan mana benar dan salah,mungkin lebih dari itu karena pendidikan karakter menanamkan kebiasaan hal baik seperti apa kata aristoteles dan beberapa psikolog.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar